Dog I Love You

Dog I Love You

Senin, 22 November 2010

Polisi Tembak Mati Anjing yang Setia Jaga Mayat Majikan

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG--Polisi dari Polsek Klojen, Kota Malang, Jawa Timur, menembak mati anjing yang sedang menjaga dan menunggui mayat majikannya, Jonatan (43 tahun) di kawasan Pasar Besar Malang, Kamis (21/10). Penembakan terhadap anjing jenis herder itu dilakukan polisi untuk memperlancar proses evakuasi jenazah Jonathan yang ditemukan sudah membusuk.

Praktis, anjing bernasib sial itu menyusul kematian majikannya, yang ditengarai sudah meninggal dunia seminggu lalu. Penembakan terhadap anjing yang setia terhadap majikannya itu dilakukan aparat kepolisian dengan sangat terpaksa. Sebab, sebelum ditembak,  aparat sudah berusaha menggiring anjing tersebut ke ruangan lain. 

Polisi memancing anjing yang diprediksi sudah sepekan tidak diberi makan itu dengan sepotong daging. Namun, anjing yang terlihat galak dan beringas itu justru tak mau enyah dari sisi samping kiri jenazah Jonathan. Anjing tersebut setia menunggu dan menjaga jenazah Jonathan.

Aparat kepolisian tidak mau mengambil risiko. Polisi bermusyawarah dengan keluarga Jonathan untuk menyingkirkan anjing tersebut secara paksa. ‘’Kami bilang, polisi tak bisa melakukan evakuasi pada korban. Sebab, ada anjingnya yang terlihat galak karena sudah tidak diberi makan selama seminggu,’’ kata Kapolsek Klojen, Kompol Kartono.

Keluarga Jonathan tidak keberatan dan menyetujui anjingnya itu ditembak mati. Meski begitu, Kapolsek ini tetap  minta izin atasannya. ‘’Atasan kami membolehkan dengan menggunakan satu peluru. Ya kami gunakan senjata laras panjang untuk menembak anjing itu di dekat mayat Jonathan itu. Setelah itu, kata dia, baru proses evakuasi bisa dilakukan,’’ tuturnya.

Dia menjelaskan bahwa penembakan terhadap anjing itu bermula dari laporan warga soal penemuan mayat di Toko Mapan, Jalan Pasar Besar Malang. Warga menemukan mayat itu karena tersebar aroma bau busuk.

Warga di sekitar Pasar Besar Malang itu mencari sumber bau busuk tersebut. Setelah ditelusuri, ternyata bau busuk itu berpusat di tToko Mapan yang sudah dua tahun tidak beroperasi dan dalam kondisi tertutup. Pintunya pun terkunci. Sehingga, pintu tersebut dibuka secara paksa.

Setelah dibuka, ternyata di toko yang sekaligus difungsikan sebagai tempat tinggal, Jonathan sudah telentang tak bernyawa. Tubuhnya membusuk. Sedangkan di sampingnya ada anjingnya yang menjaga dengan setia.

Berdasarkan hasil olah TKP sementara, polisi menyimpulkan Jonatan meninggal karena sakit. Sebab, polisi tidak menemukan tanda-tanda adanya penganiayaan terhadap korban. Meski begitu, polisi tetap mengirim jenazah korban ke RSSA Malang untuk diotopsi.



Kesetiaan Seekor Anjing
Sepekan Tunggui Mayat, Anjing Ditembak
Jumat, 22 Oktober 2010 | 12:02 WIB

KOMPAS.com — Ini cerita kesetiaan seekor anjing herder yang akhirnya mati di ujung senapan serbu polisi. Padahal, beberapa menit sebelumnya, si anjing telah menunjukkan kesetiaan tiada tara kepada tuannya yang telah sepekan meninggal.

Cerita ini bermula dari ditemukannya Jonathan Samiaji (43), pewaris Toko Jamu Pusaka, di Jalan Pasar Besar 39, Kota Malang, yang tewas membusuk di dalam toko tersebut, Kamis (21/10). Kepala Kepolisian Sektor Kota Klojen Kompol Kartono mengatakan, penemuan jenazah ini berawal dari kecurigaan warga dengan bau busuk dari dalam toko tersebut.

”Bau busuk ini sudah tercium warga sejak tiga hari sebelumnya,” ujar Kartono.

Berusaha menjawab kecurigaan, petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) di kawasan tersebut, Suroso, akhirnya berinisiatif menelepon Kepolisian Sektor Kota Klojen. Tak menunggu lama, sejumlah polisi pun berdatangan ke lokasi.

Di saat yang sama, warga juga menjemput Lilik Lusiana (63), bibi Jonathan, yang diyakini menjadi salah satu kerabat terdekatnya. Atas persetujuan Lilik juga, pukul 09.00 WIB, polisi mulai membongkar pintu toko yang memang dalam keadaan terkunci dari dalam.

Di dalam, polisi menemukan mayat Jonathan yang terbujur membusuk di atas sebuah sofa lusuh. Namun, baru saja hendak mendekati mayat itu, suara salakan anjing mengagetkan para petugas yang hendak mengevakuasi jasad pria lajang itu.

Seekor anjing herder, berukuran cukup besar, berdiri di sisi jenazah Jonathan. Sebagian polisi, termasuk Kepala Satuan Sabhara Polresta Malang AKP Susanto, menceritakan, anjing itu cukup menakutkan.

Matanya menatap liar ke arah semua polisi yang memasuki ruangan itu. Sambil terus menyalak, sempat juga ia memamerkan taringnya yang besar.

Sesekali ia berjalan hilir mudik, menunjukkan rasa tak senangnya terhadap orang asing. Setiap polisi berusaha mendekati mayat, berbalas salakan dari si anjing. Karena itulah, alih-alih mendekati jenazah Jonathan, tak banyak polisi yang bahkan berani masuk ke dalam ruangan tersebut.

Susanto sebenarnya sempat berinisiatif menjinakkan anjing itu dengan menyemprotkan merica semprot. Namun, senjata semprot bawaan polisi yang dikenal dengan istilah OC (oloresin capsicum)-3 ini nyatanya tak mempan.

”Anjing itu hanya berjalan mundur, tapi malah mendekati jenazah korban,” kata Susanto.

Rencana A gagal, polisi lalu mulai memikirkan cara lain untuk mendekati anjing. Cara yang ditempuh adalah dengan memanggil pawang anjing.

Rencana B ini rupanya berhasil. Dengan sebilah bambu panjang, tiga orang pawang, dengan pakaian lengkap penjinak anjing, berhasil mengarahkan anjing itu untuk masuk ke kamar mandi.

Sesegera mungkin setelah anjing itu masuk, seorang pawang mengunci kamar mandi dari luar, hingga akhirnya proses evakuasi jenazah Jonathan berjalan mulus.

Takut rabies

Seusai proses evakuasi jenazah, masalah lain muncul, yaitu mau diapakan si anjing itu. Kartono mengaku pihaknya menyerahkan nasib anjing itu kepada Lilik. Kepada bibi Jonathan itu, Kartono memberi dua pilihan, dibawa pulang, atau dibunuh di tempat.

Opsi kedua ini, menurut Kartono, diberikan polisi mengingat kekhawatiran anjing bisa berbahaya bagi warga sekitar. ”Toh, kita tidak tahu riwayat anjing itu. Misalnya, bagaimana kalau dia kena rabies,” ujarnya.

Lilik, yang tak bersedia merawatnya, akhirnya menyetujui opsi kedua. Kartono dan sejumlah pejabat polisi pun sepakat untuk menembak mati anjing tersebut.

Di sebuah kamar kosong, anjing itu ditembak dua kali dengan senjata laras panjang SS1-V2 milik seorang personel Sabhara. ”Tembakan pertama, anjing itu sebenarnya sudah tersungkur, tapi masih bernapas. Dua menit kemudian, kita putuskan untuk beri tembakan kedua,” kata Kartono. Anjing yang nenek moyangnya berasal dari Jerman itu pun menyusul tuannya ke alam baka.

Kartono juga mengatakan, setelah dipastikan tewas, Lilik sempat meminta warga dan polisi untuk membantu menguburkan anjing itu di sepetak tanah kosong di belakang toko.

Mengenai peristiwa ini, Lilik tak sempat menjelaskan banyak hal. Ia mengaku masih sangat berduka dengan kematian keponakannya itu.

Namun, ia menduga, Jonathan tewas karena sakit asma yang dideritanya sejak kecil. Dan dia tahu persis, kalau anjing itu memang milik Jonathan.

Bahkan, menurut Lilik, Jonathan sudah sangat lama membesarkan anjing itu. ”Sejak bayi, anjing itu dibesarkan oleh Jonathan sampai sekarang. Seingat saya dulu diberi seorang temannya,” kata Lilik.

Lilik juga mengakui, keponakannya yang dikenal sebagai duda sebatang kara itu punya kehidupan yang serba tertutup. Ia adalah pribadi pendiam yang introver.

Terlebih, sejak ia gagal dalam berumah tangga. Ia dikenal semakin menutup diri dari kehidupan bersosial.

Kehidupan Jonathan yang menyedihkan itu sebenarnya terlihat dari kondisi dalam rumahnya yang tak terawat dan penuh debu. ”Karena kasihan, sesekali, saya mengantarkan makan ke dia. Tapi, itu juga sangat jarang,” kata Lilik, yang mengaku sudah sebulan lalu terakhir bertemu dengan Jonathan.

Anjing itu, kata Lilik dan sejumlah warga sekitar, merupakan satu-satunya sosok sahabat yang menemani kehidupan Jonathan sehari-hari. Warga percaya, anjing itu terus menjaga Jonathan, sampai majikannya itu tewas membusuk sekalipun.

Ada dugaan anjing itu sudah tidak makan selama sepekan. Berdasarkan keterangan seorang warga, toko itu sekitar sepekan tutup, dan baru empat hari lalu warga mencium bau busuk. Warga memperkirakan, Jonathan meninggal sejak sepekan lalu sehingga tidak bisa memberi makan si anjing.

Sikap bermusuhan yang ditunjukkan anjing itu kepada para petugas diduga karena anjing itu tidak ingin ada yang mengganggu tuannya. Tak mengherankan kalau anjing itu berlaku demikian. (ab)

==========================================

Bukti kesetiaan seekor anjing, dia milih kelaperan seminggu daripada makan majikannya sendiri.

Btw, agak disesalkan kenapa lsg memutuskan untuk nembak mati anjing ini. Takut rabies, kan bisa dicek dulu, bukankah ada pawang anjing segala.

Rest in peace, untuk majikan dan juga anjingnya.
sumber: http://forum.kafegaul.com/showthread.php?t=226095

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar